Data Opini

Nyepi dan Corona

blog post

Umat Hindu Bali baru akan menjalankan Nyepi pada 25 Maret 2020 atau bertepatan dengan hitungan tilem kesanga, tahun baru Saka 1942. Secara historis, sistem penanggalan caka atau saka tersebut dimulai pada 78 Masehi, ketika penobatan Raja Kanishka I dari Dinasti Kushana di India.

Dalam rangka menghormati dan melestarikan tradisi keagamaan Hindu, pemerintah Indonesia secara khusus menetapkan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional di samping Hari Raya Waisak. Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Indonesia No. 3/1983, yang ditetapkan pada 19 Januari 1983.

Di India, pada 1958, sistem penanggalan atau tahun Saka ditetapkan pemerintah sebagai tahun nasional. Namun, berbeda dari perkembangan tradisi agama Hindu di Bali, umat Hindu India tidak menjadikan hari pertama tahun baru tersebut sebagai momentum keagamaan secara khusus. Ibadah Nyepi adalah khas Hindu Bali.

Akan tetapi, berbeda dari praktik “perayaan” pada umumnya, Hari Raya Nyepi betul-betul dijalankan dengan menyepi. Suasana pemukiman di mana pun umat Hindu Bali hidup secara komunal, bukan hanya di Bali, seperti mengalami lock-down, sepi dan seolah tanpa kehidupan.

Semua umat Hindu yang menjalankan menetap di kediaman masing-masing. Kegiatan-kegiatan yang bukan emergency ditiadakan. Sehingga kantor-kantor, pabrik dan tempat aktivitas ekonomi lainnya tutup sementara. Di antara pelayanan umum yang buka hanya rumah sakit.

Secara konseptual-ritual, hari suci Nyepi diperuntukkan bagi tujuan penyucian diri atau alam manusia (bhuana alit atau mikrokosmos) dan penyucian alam semesta (bhuana agung, makrokosmos). Dengan posisi sebagai hamba, manusia memohon sepenuh daya dan upaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya diri dan alam tempat mereka hidup kembali suci seperti sediakala.

Saat Nyepi, umat Hindu pada umumnya menjalankan Catur Brata, semacam puasa dari empat hal yang biasa dilakukan sehari-hari. Keempatnya meliputi amati geni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Bagi kalangan umat Hindu tertentu, biasanya dilakukan ritual-ritual yang lebih berat. Ini terutama dilakukan oleh mereka yang dipandang berilmu (sang wruhing tattwa jñana). Mereka melaksanakan tapa (latihan menderita seperti tidak makan atau tidur), brata (latihan mengekang nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma atau Tuhan), serta semadhi (manunggal dengan Tuhan supaya suci lahir-batin.

Secara keseluruhan, kegiatan ritual yang dilakukan dalam ritual Nyepi betul-betul untuk mengamalkan  apa yang dinyatakan dalam Sloka Manawa Dharmasastra V. 109, di mana “… tubuh disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, atma [jiwa] disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu”.

 

Nyepi dan Virus Corona

Di tengah meluasnya pandemi virus corona atau Covid-19, momentum Nyepi seolah telah dimulai jauh-jauh hari. Di tengah lock-down berbagai aspek kehidupan, kegiatan suci Nyepi tahun ini terasa berbeda dari biasanya. Paling tidak, sebagai sebuah bahan renungan, hari Nyepi akan bermanfaat tidak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi rakyat Indonesia pada umumnya dan masyarakat dunia.

Pemerintah secara resmi sudah menyampaikan kepada masyarakat supaya mengurangi mobilitas fisik. Sekolah-sekolah dan kampus sudah mulai diliburkan dan para murid atau mahasiswa belajar dari rumah secara online. Demikian juga dengan kantor-kantor pemerintah, lembaga atau badan pelayananan publik. Perusahaan-perusahaan memaksimalkan kerja di dan dari rumah jika memungkinkan.

Saat ini, umat manusia seperti diminta oleh Yang Maha Kuasa untuk “menyepi”, meskipun tentu tak bermakna ideologis dan ritual seperti Nyepi bagi umat Hindu. Akan tetapi, tindakan menyepi sebagai sebuah solusi dalam menyikapi pandemi corona, sampai taraf tertentu, adalah juga semacam puasa dan pengekangan hawa-nafsu.

Dalam tradisi Hindu-Bali, hemat saya, manusia menjalani hidup dalam sebuah siklus atau cakra, yang bisa berbentuk harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Di setiap titik dalam setiap lingkaran cakra mesti tersedia waktu untuk kembali pada Tuhan, setelah atau sebelum mencari penghidupan atau menikmati hiburan.

Hari Raya Nyepi adalah satu titik dalam cakra tahunan. Nyepi adalah titik akhir sekaligus titik awal dari cakra kehidupan. Secara psikologis ia adalah waktu untuk introspeksi, berhenti sejenak melihat masa yang telah dijalani dan merancang masa depan. Sedangkan secara spiritual, ia adalah waktu untuk menyucikan diri, hati dan pikiran.

Di tengah pandemi virus corona, di mana solusi medis adalah wajib dan harus demikian adanya, spiritualitas seperti diajarkan dalam kegiatan Nyepi adalah sumber energi batin. Ketika obat-obatan, mekanisme perawatan, dan teknologi mutlak dimanfaatkan sebesar-besarnya, tapa-brata, yoga dan semadhi adalah cara batin menuju pencerahan visioner akal-budi dan kekuatan nurani.

Meskipun demikian, wajib dicatat bahwa ritualitas dan spiritualitas tidak boleh dikacaukan dengan mengatakan bahwa keduanya adalah obat yang serta-merta bisa menyembuhkan penyakit. Kekuatan pikiran dan hati, yang terlahir dari praktik ritual atas dasar spiritualitas murni, adalah untuk kebajikan, seperti untuk menemukan solusi atas masalah umat manusia. 

Back to Top