Data Opini

Gus Solah: Sahabatku Pejuang Kebangsaan

blog post

IGK Manila


Keakraban kami terjalin sejak sama-sama berada di Bandung pada 1965-1967. Saya adalah seorang letnan yang berdinas di Angkatan Darat dan Salahuddin “Gus Sholah” Wahid adalah aktivis mahasiswa yang berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ada beberapa persamaan yang mungkin menjelaskan kenapa kami bersahabat akrab. Selain sama-sama pencinta alam dan aktif di Wanadri, kami terlahir pada tahun yang sama, 1942, meskipun Gus Sholah lebih muda dua bulan.Walau saya terlahir sebagai Hindu dan beliau sebagai Muslim, kami sama-sama sampai pada kesimpulan tentang kebermaknaan toleransi dan bahaya radikalisme.

Selain itu, sebagai warga sipil, Gus Sholah pernah berkecimpung dalam Kepanduan Anshor, aktivisme yang dekat dengan pendekatan kemiliteran. Tumbuh sebagai remaja dan pemuda di tengah dinamisme politik era 1950 sampai 1960-an, kami berada dalam kapal yang sama soal kebangsaan dan bagaimana mempertahankannya.

Meskipun tidak terus-menerus, terutama karena sebagai perwira militer saya harus bekerja dengan berpindah-pindah ke berbagai wilayah di Indonesia, pertemuan intens kami tetap berlanjut. Kami mulai sering bertemu dan berbicara intens lagi pada 1974-1977 dan 1985, ketika saya bertugas di Cimahi dan Gus Sholah bekerja sambil tetap berusaha menyelesaikan kuliahnya di ITB.

Dalam lebih dari lima dekade persahabatan kami, sebagai bumbu persahabatan, adakalanya kami juga berbeda pendapat. Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika Gus Sholah bersedia menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Wiranto  pada pemilu presiden 2004.

Karena rasa persahabatan yang kuat saya menyampaikan pendapat saya tentang kalkulasi politik saat itu. Hanya saja, mungkin karena berbagai pertimbangan lain, beliau tetap melanjutkan pilihan mengikuti kontestasi politik tersebut.

Ketika pemilu usai di mana dalam putaran pertama beliau bersama Wiranto hanya memperoleh 22 persen suara, Gus Sholah menelepon saya. Selain menyampaikan terima kasih atas dukungan moral yang diberikan, beliau menyampaikan akan fokus dalam aktivisme keagamaan dan kemasyarakatan. Pada 2006, kita tahu, beliau mulai memimpin Pondok Pesantren Tebuireng.

Ketika saya sendiri pada akhirnya terlibat semakin intens dalam pengembangan pendidikan politik, Gus Sholah juga menyampaikan pandangannya sebagai sahabat. Terutama setelah menerima jabatan sebagai Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai Nasdem pada 2017, selain menyampaikan ucapan selamat, beliau berpesan soal bagaimana merawat kebangsaan melalui sistem kepartaian dalam politik.

Pada tahun 2017 juga, dalam sebuah kesempatan di sebuah universitas di Malang, kami terlibat obrolan intens. Di samping ajakan Gus Sholah untuk berkunjung ke Pesantren Tebuireng, salah satu pokok diskusi kami yang paling saya ingat adalah soal radikalisme dan politik kebangsaan.

Selain menjadi penyegaran bagi saya terkait ajaran dan praktik toleransi Islam, saya bertambah yakin bahwa Indonesia bisa berhasil keluar dari gelombang pasang radikalisme yang dalam berbagai kesempatan sudah berujung terorisme. Sebab, dalam pikiran saya saat itu, masih ada pemimpin-pemimpin agama dengan massa yang besar yang berkomitmen demikian kuat akan kemutlakan paham kebangsaan.

Ketika Gus Sholah resmi dinyatakan wafat pada Ahad malam, 2 Februari 2020, saya tentu saja merasa sangat kehilangan. Di samping itu, ada janji pada beliau yang belum jadi diwujudkan, yakni berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang.

Selain perasaan kehilangan karena alasan pribadi, ada perasaan gelisah. Secara retorika, mudah sekali umpamanya mengatakan “patah tumbuh hilang berganti”. Akan tetapi, ini akan serupa dengan harapan  setelah mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, kakak kandung Gu Sholah, meninggal. Pejuang keadilan, hak asasi manusia, toleransi beragama dan kebebasan berekspresi tersebut serasa tak tergantikan.

Dari bacaan dan pengalaman hidup hampir delapan dekade ini, saya menemukan bahwa pejuang dan pemimpin umat seperti Gus Dur dan Gus Sholah tak tumbuh begitu saja. Meskipun berpengaruh penting, literatur akademik atau bangku sekolah dan kuliah tak akan berarti banyak dalam membentuk mereka jika perjalanan hidup keduanya tak seperti kawah Candradimuka.

Sejak usia sekolah dasar, umpamanya, di awal 1950-an, Gus Sholah tak lagi hidup dalam lingkungan yang heterogen seperti di Tebuireng, Jombang. Hidup bersama ayahnya sebagai politisi berlatar belakang agamawan, beliau seperti dibawa ke dalam pusaran pelangi di pusat peradaban dan perpolitikan Indonesia.

Bertumbuh di Jakarta dan sekitarnya, dan kemudian menjadi aktivis mahasiswa di Bandung, Gus Sholah menjadi matang dan besar dalam mikrokosmos Indonesia. Melihat dan mengalami langsung realitas perbedaan agama, sosial, politik dan ekonomi masyarakat, beliau belajar tentang makna keadilan, hak asasi, kebebasan dan toleransi dalam praktik dan keharusan memperjuangkan semua itu.

Demikian juga, hidup dalam tiga zaman, mulai dari Orde Lama sampai dengan Orde baru dan Reformasi, membuat Gus Sholah kaya dengan pengalaman asam-garam demokrasi. Itu sebabnya, hemat saya, yang membuat beliau tak seperti agamawan kebanyakan. Beliau tak sibuk dengan urusan sektarianisme, soal kawin-cerai atau syari’atisasi ruang publik yang menjadi ladang hidup pemimpin agama kebanyakan.

Kini, Gus Sholah telah tiada. Selain berharap akan muncul pemimpin-pemimpin agama baru yang meneruskan cita-cita beliau, berbagai warisannya tentu harus kita rawat. Terutama bahwa beragama, bermasyarakat dan berpolitik harus atas dasar maslahat, kebajikan bagi semua.

Selamat jalan, Gus!

 

Back to Top