Data Opini

Best-practices Pendidikan Kebhinekaan

blog post

IGK Manila


Di tengah ketertarikan dan keterlibatan yang semakin dalam terhadap pendidikan, saya amat beruntung. Pada 22 Februari lalu, saya menghadiri kegiatan Kenduri Kebangsaan di Sekolah Sukma Bangsa, Biereun, Aceh. Seminggu setelah itu, saya menghadiri ulang tahun ke-24 Sekolah Madania, sekolah Indonsia berkualitas internasional di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Kedua lembaga pendidikan yang sudah menasional dan dikenal di dunia internasional ini memiliki beberapa kemiripan yang bukan kebetulan. Di belakang keduanya, tentu saja dalam sebuah jalinan kolaborasi yang melibatkan orang-orang hebat di Indonesia, ada benang merah, baik secara perspektif, gagasan maupun personal.

Prof. Komaruddin Hidayat adalah salah seorang pendiri Sekolah Madania pada 1996. Sementara itu, intelektual Muslim yang juga mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini adalah salah satu tokoh yang terlibat dalam pembangunan aspek akademik Sekolah Sukma Bangsa, yang mulai beroperasi sejak Juli 2006, sekitar dua tahun setelah Tsunami di Aceh.

Di Sekolah Madania, Prof. Komaruddin membangun pendidikan berbasis multikulturalisme bersama cendekiawan Prof. Nurcholish “Cak Nur” Madjid dan eksekutif kawakan Achmad Fuadi. Di Sekolah Sukma Bangsa, pemikiran akademis Prof. Komaruddin dipadu dengan konsep-konsep pendidikan yang dikembangkan Yayasan Sukma, yang dikelola dan didukung sepenuhnya oleh Media Group, yang dipimpin oleh tokoh nasional Surya Paloh dan Rerie L. Moerdijat.

Meskipun telah terlibat dalam dunia pendidikan sejak era 1970-an—sejak mana saya menjadi Guru Militer, Komandan Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdik Pom).Ketua Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), dan kini sebagai Gubernur Akademi Bela Negara (ABN)—adanya pendidikan sipil yang terbuka, toleran, dan inklusif seperti oase yang menyejukkan. Bahkan dengan bolak-balik membaca, mendengar dan melihat langsung bagaimana Sekolah Sukma Bangsa dan Sekolah Madania dikelola, keyakinan saya tentang masa depan Indonesia berdasar Bhineka Tunggal Ika yang harmonis semakin teguh.

Pandangan dan keyakinan subyektif saya ini bukan tanda dasar personal. Saya sendiri adalah orang Indonesia berlatar belakang Hindu-Bali. Namun demikian, sebagai seorang nasionalis yang inklusif, saya membebaskan putra, putri, dan semua cucu untuk memilih keyakinan secara merdeka. Di samping itu saya juga beristeri  dan bermenantu keturunan Tionghoa. Dan tak terhitung jumlah sahabat saya dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Masa depan Indonesia, dalam pandangan saya sebagai orang tua yang sudah berusia 78 tahun dan telah hidup dalam tiga orde berbeda, ditentukan oleh sejauhmana warga negara ini mempertahankan harmoni dalam semangat kebhinekaan. Akan tetapi, harmoni semacam itu tak akan lahir begitu saja. Salah satu prasyaratnya, kita mesti memiliki lembaga-lembaga pendidikan yang secara aktif-kreatif memfasilitasinya supaya tumbuh dan berkembang dalam jiwa anak-anak Indonesia.

Belajar dari Sekolah Sukma Bangsa dan Sekolah Madania, oleh karena itu, lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah maupun swasta paling kurang harus memperjelas, mempertegas dan betul-betul menjalankan visi dan misi pendidikan yang sesuai. Dan visi-misi tersebut harus didasarkan atas sudut pandang pendidikan yang tepat dan direalisasikan menggunakan workable best-practices, konsep dan praktik pendidikan yang terbukti efektif.

Visi-misi Kebhinekaan

Baik Sekolah Sukma Bangsa maupun Sekolah Madania pada dasarnya lahir di tengah keprihatinan akan keindonesiaan di tengah masyarakat yang mayoritas Muslim. Sekolah Sukma Bangsa lahir di Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekah dan Sekolah Madania lahir sebagai wujud mimpi kelas menengah Muslim di pusat ekonomi, politik dan sosio-kultural Indonesia.

Aceh di masa lampau adalah salah satu contoh terbaik kosmopolitanisme di Asia Tenggara. Sampai saat ini, tradisi atau realitas tersebut tak bisa dikatakan padam atau berubah. Jika kita berkeliling Aceh, bertemu dengan masyarakat di perkotaan dan pedesaan, dengan cepat kita akan menangkap fakta bahwa kosmopolitanisme tersebut tetap hidup. Adalah kecamuk konflik salah satunya yang menyebabkan kebhinekaan menjadi tergerus dan keberagaman dipertaruhkan.

Di Jabodetabek, di mana Sekolah Madania berdiri, kelas menengah terdidik Muslim telah menanggung keresahan intelektual-keagamaan sejak tahun 1970-an, atau bahkan lebih awal lagi. Mereka seperti terjebak di tengah, di antara Islam tradisional dan kemoderenan. Keresahan utama mereka, selain terkait penempatan diri secara politik dan kultural, mencakup bentuk pendidikan yang tepat bagi anak-anak Indonesia, yakni pendidikan yang moderen namun berakar pada keindonesiaan yang multikultural.

Aceh pasca-tsunami adalah Aceh yang bersentuhan kembali secara terbuka dengan orang-orang dari seluruh dunia. Meskipun dihimpit penderitaan mendalam dan massif karena bencana, masyarakat Aceh seperti ditarik kembali ke fakta sejarah mereka di masa lampau. Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban Asia Tenggara, dan jika itu hendak dikembalikan, peradaban baru yang kosmopolitan harus dibangun.

Sekolah Sukma Bangsa dibangun demi sebuah masa depan yang berakar pada masa lampau. Itulah sebabnya, sekolah ini memfasilitasi pembelajaran untuk para murid dari lapisan dan golongan masyarakat manapun tanpa pembedaan. Kita bisa menemukan anak-anak Batak yang belajar bersama anak-anak bersuku bangsa Aceh yang mayoritas. Kita bisa menemukan anak-anak Tionghoa duduk sebangku dengan anak-anak keturunan Minang, Jawa atau Sunda.

Demikian juga di Sekolah Madania. Meskipun para pendirinya adalah cendekiawan dan pengusaha Muslim dan bermurid mayoritas Muslim, di sana ada anak-anak Hindu-Bali dan Tionghoa yang berlatar-belakang Kristen, Katolik atau Konghucu. Di sana ada fasilitasi pendidikan dan pelayanan ibadah bagi mereka yang berbeda.

Sekolah Madania dibangun di atas sendi multikulturalisme Islam. Ketika Islamisme yang sempit dieksploitasi sedemikian rupa sehingga melahirkan terorisme atas nama agama, Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam diajarkan dan dikembangkan di sini. Di Sekolah Madania, Islam yang kita lihat, paling kurang dalam kacamata saya sebagai seorang Hindu-Bali, adalah Islam yang bukan hanya ramah tetapi mencerahkan.

Sebagai penutup, dengan melihat teladan kedua rumah pendidikan ini, saya berharap para pejabat dan ahli pendidikan Indonesia bisa membuka mata dan hati lebih lebar lagi. Dengan segala kuasa dan daya yang mereka punya, saya berdoa, pendidikan Indonesia bisa betul-betul dibawa ke arah mana kedua lembaga pendidikan ini telah bergerak.

Tentu saja, dengan segala keterbatasan kesempatan dan penglihatan saya, pasti terdapat sekolah-sekolah lain yang juga telah berhasil membangun rumah pendidikan yang berbasis bhineka dan hebat. Dengan  umur dan daya yang masih dimiliki, semoga saya juga mendapat kesempatan untuk tidak hanya berkunjung ke sana, tetapi juga belajar lebih luas dan dalam dan menyebarkan setiap best-practices yang mereka punya di mana pun saya berada.

Back to Top