Ukom Disusupi Mafia, Fakultas Kedokteran Abal-Abal Wajib Ditutup
Jakarta, (08/6). Anggota Komisi IX DPR
RI dari Fraksi NasDem, Irma Suryani, mengecam keras dugaan praktik mafia dalam
pelaksanaan Uji Kompetensi (Ukom) Mahasiswa Program Profesi Dokter.
Irma mendesak pemerintah, segera menutup
fakultas kedokteran yang tingkat kelulusan Ukom-nya di bawah 50%, serta menertibkan
tata kelola penyelenggaraan ujian kompetensi secara menyeluruh.
Diungkapkan oleh Irma, banyak calon dokter yang mengadu langsung
kepadanya, karena tidak lulus Ukom berulang kali, bahkan hingga 11 kali.
Ironisnya, sebagian peserta yang mendapat nilai jauh di bawah mereka justru
dinyatakan lulus, memunculkan kecurigaan kuat adanya jual-beli soal.
“Beredar kabar bahwa soal itu
diperjualbelikan. Yang main siapa? Menurut isu yang beredar dari anak-anak ini,
yang main justru fakultas sama Dikti (Pendidikan Tinggi),” ungkap Irma dalam RDPU Komisi IX dengan
Kolegium Dokter Indonesia, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin
(8/6/2026).
Disoroti juga oleh Irma, mengenai
pemberian izin pendirian fakultas kedokteran yang dinilai terlalu longgar oleh
Direktorat Jenderal Dikti. Menurutnya, daripada membuka izin baru untuk kampus
yang kualitasnya diragukan, pemerintah seharusnya menambah kuota mahasiswa di
fakultas kedokteran yang sudah terbukti berkualitas.
“Dikti jangan obral-obral izin buka
fakultas kedokteran. Kenapa tidak ditambah saja kuotanya dari fakultas
kedokteran yang sudah ada, yang punya pendidik bagus, profesional,
berkualitas,"
ujarnya.
Legislator NasDem dari dapil Sumsel II
itu, tidak menampik sisi kemanusiaan dari masalah ini. Disebutkan olehnya, banyak
orang tua yang rela menjual aset hingga miliaran rupiah demi membiayai
pendidikan dokter anaknya, namun harus berakhir tanpa kelulusan Ukom. Ia bahkan
menerima langsung surat dari orang tua mahasiswa yang putus asa.
“Fakultas kedokteran yang tingkat
kelulusan Ukom-nya di bawah 50 persen, wajib ditutup. Jangan sampai
mengorbankan anak-anak sehingga orangtuanya bangkrut. Kasihan, mereka sudah
keluar uang miliaran, sampai ada yang jual sawah," tegasnya.
Irma mendesak Kolegium Dokter, Konsil
Kedokteran Indonesia, dan Menteri Kesehatan untuk segera duduk bersama dengan
Dikti, guna memperbaiki tata kelola Ukom.
Ditegaskan olehnya, Presiden
menginginkan pemenuhan kebutuhan dokter di seluruh Indonesia, namun hal itu
tidak boleh dicapai dengan meluluskan dokter yang tidak kompeten, karena
menyangkut nyawa manusia. (JHL.7)