Kerusuhan di Muara Beliti Cerminan Krisis Pengelolaan Lapas
Jakarta, (14/5). Shadiq Pasadigoe, Anggota
Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, menyampaikan keprihatinan
mendalam atas kerusuhan yang terjadi di Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti,
Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan. Ia menilai bahwa insiden tersebut bukan
sekadar kekisruhan sesaat, tetapi sebagai tanda-tanda sistem pengawasan dan
tata kelola lembaga pemasyarakatan yang masih menyimpan banyak kelemahan.
“Kita sangat berharap sistem
pemasyarakatan yang benar-benar manusiawi dan berfungsi mendidik warga binaan.
Tapi yang kita lihat sekarang, lapas masih jauh dari kata ideal. Peristiwa ini
memperlihatkan bahwa masih banyak yang harus dibenahi,” ujar Shadiq dalam keterangannya, Rabu
(14/5/2025).
Ditambahkan juga oleh Legislator NasDem
dari Dapil Sumatra Barat I (Kabupaten Dhamasraya, Kepulauan Mentawai, Pesisir
Selatan, Sijunjung, Solok, Solok Selatan, Tanah Datar, Kota Padang, Padang
Panjang, Sawah Lunto, dan Kota Solok) itu, kerusuhan yang terjadi harus menjadi
peringatan bahwa sistem pengelolaan lapas tidak boleh berjalan biasa-biasa
saja.
"Seperti pepatah Minangkabau
mengatakan, 'Tatumpuak di ateh indak bapucuak, tagak di bawah indak baurek'
(Jika suatu sistem tidak memiliki arah dan pegangan, maka akan mudah terguncang
dan rusak)," tegas
Shadiq.
Disampaikan juga oleh Mantan Bupati
Tanah Datar dua periode, pembenahan lapas haruslah berpijak pada falsafah
negara hukum yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Merujuk pada
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, sistem pemasyarakatan
bertujuan untuk membentuk narapidana agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari
kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana.
"Namun dalam praktiknya, sistem
pemasyarakatan masih terjebak dalam pendekatan represif, bukan rehabilitatif.
Kita butuh pendekatan dan harus memperbaiki dari sistem dan niat yang ada dalam
tubuh institusi ini sendiri,” tandasnya.
Selain itu, mengenai pentingnya
manajemen konflik dan pembinaan sumber daya manusia di lapas, juga disoroti
oleh Shadiq. Dalam konteks Sumatra Selatan, ditegaskan olehnya bahwa semua
unsur, baik Kementerian Hukum, aparat keamanan, hingga pengawasan dari DPR,
harus bahu-membahu menciptakan lapas yang aman, manusiawi, dan berfungsi
sebagai tempat pembinaan, bukan tempat pembalasan.
"Oleh karena itu saya minta
kementerian terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola
lembaga pemasyarakatan, termasuk sistem pengawasan internal, pelatihan petugas,
dan perbaikan infrastruktur. Jangan sampai ini bagaikan api dalam sekam yang
terus membara dan suatu saat bisa meledak lebih besar,” pungkasnya.
Sebelumnya, kerusuhan di Lapas Narkotika
Muara Beliti yang dipicu oleh razia HP, yang dilakukan oleh petugas sejak malam
sebelumnya, terjadi pada Kamis (8/5) pagi. Ketegangan yang meningkat berujung
pada kerusuhan besar yang mengakibatkan sejumlah fasilitas lapas mengalami
kerusakan berat. Pihak lapas akhirnya meminta bantuan dari Polres, Kodim, dan
Brimob untuk mengendalikan situasi. (JHL.551)