Data News

Proyek Mercusuar Tak Berdampak ke Masyarakat Pemerintah Diminta Mengkaji Ulang

Jakarta (1/7). Sugeng Suparwoto, Ketua Komisi VII DPR RI meminta Pemerintah agar menekan pembiayaan-pembiayaan yang tidak produktif dan tidak berpengaruh kepada masyarakat dapat dikaji ulang, karena membengkaknya subsidi APBN di tengah melemahnya kurs rupiah terhadap dolar, hal tersebut perlu dilakukan guna menghemat pengeluaran pemerintah.

"Sebagaimana juga zaman dulu, misalnya proyek-proyek mercusuar dan sebagainya itu ditangguhkan, mengingat dalam waktu dekat ini sudah barang tentu implikasinya luar biasa," ujar Sugeng dalam keterangannya, Minggu (30/6).

Legislator NasDem yang akan kembali duduk di kursi Senayan, periode 2024-2029 ini juga meminta dikaji secara serius terkait subsidi bahan bakar minyak (BBM), oleh pemerintah, Kajian diperlukan untuk mengurai masalah subsidi yang dirasa semakin mencekik APBN.

Masalah lain muncul karena harga produksi BBM kian naik. Harga produksi BBM jenis Pertalite sudah naik dari Rp12.400 menjadi Rp13.500 per liter. Angka itu lebih tinggi Rp3.500 dibandingkan dengan harga jual di SPBU Pertamina saat ini yakni Rp10.000.

"Pertalite dengan harga jual Rp10.000 (per liter), itu harga produksinya kurang lebih Rp12.400. Bahkan, akhir-akhir ini akan naik kurang lebih menjadi Rp3.500. Jadi Rp13.500 harga realnya," tambahnya.

Ditambahkan Sugeng juga mengenai, selisih harga produksi dan harga jual bisa memberikan beban berat bagi Pertamina. Terutama, bila penyaluran Pertalite melebihi kuota yang telah ditentukan pada 2024 yakni 31 juta kilo liter.

"Setiap liternya itu kurang lebih Rp3.500 dikalikan 31 juta kiloliter. Itu untuk Pertalite di 2024 ini kita targetkan demikian. Prognosa yang ada itu tampaknya akan terlampaui, bahkan menjadi 32 juta kiloliter. Nah ini, kan, beban juga bagi korporasi sebagaimana saya kemukakan tadi," jelas Sugeng.

Menurut Sugeng, selain Pertalite, BBM jenis Solar juga mengalami masalah yang sama. Harga keekonomian Solar mencapai Rp12.100, sementara harga jual di SPBU hanya Rp6.800. Padahal, subsidi dari pemerintah hanya Rp1.000 per liter.

"Solar ini juga sudah mengalami problem yang cukup serius, karena subsidi Solar kita tetapkan antara Rp1.000-Rp3.000, malah ditetapkan oleh pemerintah Rp1.000 per liter. Nah inilah juga yang terus-menerus kita hitung," paparnya. (JHL.242)

Back to Top