Data News

Utang BBM Sebesar Rp3,2 T, Amelia Minta TNI AL Benahi Perencanaan dan Distribusi

Jakarta, (30/4). Amelia Anggraini, yang merupakan Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, menilai utang BBM TNI Angkatan Laut kepada Pertamina sebesar Rp3,2 triliun menandakan adanya kelemahan dalam sistem perencanaan dan distribusi BBM operasional.

"Ini menimbulkan kekhawatiran terhadap efisiensi dan akuntabilitas anggaran pertahanan," kata Amelia dalam Rapat Kerja Komisi I DPR dengan Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan para kepala staf angkatan, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (30/4/2025).

Amelia mempertanyakan apakah Kementerian Pertahanan telah menyusun ulang formula penggunaan BBM operasional TNI yang lebih efisien, misalnya melalui sistem kuota atau barcode tracking.

"Agar tidak terjadi pemborosan dan utang serupa di masa depan," tegasnya.

Disoroti juga oleh Amelia, mengenai Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 2 dan 3 yang merupakan kawasan perlintasan kapal asing strategis dan rawan aktivitas ilegal. Sementara itu, interoperabilitas antarmatra dan institusi sipil masih menjadi tantangan besar.

"Sejauh mana interoperabilitas antara TNI AL, TNI AU, Bakamla, dan institusi lain dalam pengawasan jalur ALKI 2 dan 3, khususnya dalam menghadapi kapal militer asing dan pelanggaran hukum laut?" tanya Amelia.

Amelia juga menyinggung terkait rencana pembentukan 100 batalyon infanteri teritorial, dihadapan para petinggi militer, Karena dinilai olehnya, hal tersebut adalah langkah besar dan cukup ambisius.

"Ini perlu kita cermati, karena berisiko menciptakan ketegangan dengan masyarakat jika tidak disosialisasikan dan dikawal dengan baik," tegasnya.

Amelia menyampaikan, Dalam pembangunan 100 batalyon tersebut, KSAD harus menjamin tidak akan terjadi gesekan antara prajurit TNI dan masyarakat sipil, terutama di wilayah-wilayah yang sensitif secara historis atau sosial.

"Apalagi di era dominasi media sosial yang sangat masif. Kami menyarankan TNI AD menyiapkan strategi komunikasi publik terhadap keberaddan militer di ruang sipil, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, disalahartikan, dan disusupi narasi-narasi negatif, sehingga berdampak pada citra TNI," tegasnya. (JHL.530)

Back to Top