Data News

NasDem Dorong Penambahan Anggaran TVRI Demi Kedaulatan Media

Jakarta, (10/7). Erna Sari Dewi, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, mendorong penambahan anggaran bagi Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI. Menurutnya,  ketimpangan besar antara kebutuhan dan alokasi anggaran yang diterima, sedang dihadapi oleh TVRI saat ini.

"Saya yang paling keras prihatin terhadap kondisi TVRI. Tahun 2025 lalu, dari pagu indikatif yang hanya 30 persen, anggarannya terus dipotong dari Rp455,7 miliar menjadi Rp312,2 miliar. Ini lembaga penyiaran publik, tapi dipotong berkali-kali,” ujar Erna dalam RDP Komisi VII DPR dengan TVRI, RRI, dan Antara, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (10/7/2025).

Pagu indikatif TVRI 2026 sebesar Rp823,9 miliar, dan diusulkan penambahan anggaran dengan total Rp1,18 triliun.

Diamati oleh Erna, bahwa sebagian besar anggaran TVRI habis hanya untuk belanja pegawai dan keperluan administratif kelembagaan, sehingga tidak cukup mendorong peningkatan kualitas konten dan pelayanan publik.

"Belanja pegawai Rp189 miliar, operasional Rp185 miliar. Tapi kebutuhan seperti infrastruktur, sewa transponder, keamanan siber, dan konten siaran kenegaraan tidak bisa terpenuhi. Ini membuat TVRI tidak bisa menjalankan fungsinya secara optimal," tambahnya.

Ditegaskan oleh Erna, TVRI memainkan peran penting dalam menjangkau masyarakat di pedesaan yang selama ini, yang mengandalkan siaran publik sebagai sumber informasi utama. Dikritisi olehnya, mengenai kurangnya dukungan pemerintah terhadap TVRI, di tengah semangat mewujudkan kedaulatan media dan transformasi digital nasional.

"Pemerintah terus menggaungkan digitalisasi dan kedaulatan media, tapi mana dukungannya untuk TVRI? Jangan lupakan masyarakat di desa yang nonton TVRI, bukan Netflix," ujarnya.

Diungkapkan juga olehnya, bahwa kondisi siaran TVRI di daerah yang memprihatinkan. Karena keterbatasan anggaran, banyak program hanya siaran ulang , kecuali untuk berita yang tidak diperbolehkan tayang ulang.

“Kalau kenaikan anggaran TVRI 2026 sebesar Rp1,18 triliun, itu pun baru untuk operasional dasar. Belum bisa memberikan pelayanan publik secara maksimal. Saya setuju ini, bahkan kalau perlu lebih,” tegasnya. (JHL.650)

Back to Top