JAKARTA (5 Mei): Wakil
Ketua DPR RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmad
Gobel, meminta Jepang menerima petani muda Indonesia untuk belajar bertani
smart farming di negara tersebut.
“Bukan untuk bekerja dan juga bukan untuk sekolah,
melainkan belajar praktik bertani yang baik dan berkualitas serta smart farming
kepada petani muda Indonesia. Cukup satu tahun saja,” ungkap Gobel, Jumat (3/5).
Hal itu gobel sampaikan
saat menerima delegasi dari partai berkuasa di Jepang, Liberal Democratic Party
(LDP). Delegasi itu dipimpin Ketua Badan Riset Kebijakan LDP, Tokai Kisaburo.
Sedangkan anggota delegasinya antara lain Ketua Harian Badan Riset Kebijakan
LDP Shibayama Masahito dan Kepala Sekretariat Badan Riset Kebijakan LDP Nakai
Toyoron. Hadir pula Wakil Dirjen untuk urusan Asia Tenggara dan Asia Barat Daya
Kementerian Luar Negeri Jepang Hayashi Makoto serta Duta Besar Jepang untuk Indonesia
Yasushi Masahi.
Gobel mengatakan, dunia
sedang dihadapkan pada krisis pangan akibat perubahan iklim dan konflik
geopolitik dunia. Perubahan iklim berdampak pada hadirnya cuaca panas yang
tinggi atau curah hujan yang berlebihan dan tidak pasti. Sedangkan konflik
geopolitik berdampak pada kenaikan harga pupuk yang tinggi.
Semua itu berakibat
Indonesia melakukan impor beras dengan jumlah yang sangat besar. Padahal
Indonesia adalah negara agraris, memiliki lahan yang luas, tanah yang subur,
dan jumlah petani yang besar. Namun faktanya Indonesia harus impor beras dari
berbagai negara seperti Myanmar, Vietnam, Thailand, India, dan China.
Pada sisi lain, kata
Gobel, Jepang adalah negara yang memiliki keunggulan teknologi sehingga bisa
menghasilkan produktivitas pertanian yang besar dan kemampuan menghadapi
perubahan iklim.
Selain itu, katanya,
produk pertanian Jepang dikenal dengan cita rasa yang lezat dan memiliki harga
yang bagus. Ia juga meminta Jepang mengajarkan pembuatan pupuk organik dan
smart farming. Teknologi penggilingan beras Jepang, katanya, juga menghasilkan
beras yang berkualitas.
Walaupun sudah melakukan
impor beras dengan jumlah sangat besar, kata Gobel, secara ironis harga beras
di Indonesia tetap tinggi.
“Harga beras premium di Indonesia mendekati harga
beras di Jepang. Padahal kualitasnya sangat berbeda. Tentu ini memprihatinkan,” katanya.
Selain itu, katanya,
karena jumlah petani di Indonesia sangat besar maka membangun pertanian akan
secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Indonesia.
“Jumlah penduduk Indonesia juga sangat besar. Jadi
memecahkan masalah kebutuhan pokok ini akan sangat fundamental bagi kemajuan
dan stabilitas Indonesia,”
katanya.
Untuk itu, ia berharap
Jepang dan Indonesia bisa meningkatkan kerja sama yang lebih erat di bidang
pertanian ini.
Selain itu, Gobel juga
menyampaikan tentang pentingnya Jepang membagi teknologinya dalam pengolahan
air bersih. Hingga saat ini, katanya, masalah penyediaan air bersih yang sehat
masih merupakan tantangan besar bagi Indonesia.
“Air bersih higienis sangat penting dalam mengatasi
stunting dan penyakit kulit. Dua hal ini masih merupakan problem mendasar bagi
masyarakat lapis bawah Indonesia dan bagi peningkatan kualitas sumberdaya
manusia. Jepang memiliki kemampuan dan teknologi pengolahan air bersih yang
sehat,” katanya.
Jika masalah pertanian dan
penyediaan air bersih bisa diatasi Indonesia, kata Gobel, maka ekonomi
Indonesia akan tumbuh lebih baik lagi.
“Ini tentu saja juga akan baik bagi ekonomi kawasan
di Asia Tenggara dan akan memiliki dampak yang baik pula bagi ekonomi Jepang.
Jadi ini kerja sama yang sifatnya saling menguntungkan,” pungkasnya. (nasihin/*)