Data News

Pemerintah Diminta NasDem Beri Perhatian Serius pada Daya Beli Masyarakat

Jakarta, (28/5). Pemerintah didorong oleh Fraksi Partai NasDem di DPR RI untuk memberikan perhatian lebih pada kemampuan konsumsi masyarakat dan ekspor dalam mengeluarkan kebijakan ke depan. Sebab, keduanya merupakan motor penting bagi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan untuk mencapai angka tinggi di tahun-tahun mendatang.

“Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4.91 ?n ekspor barang dan jasa hanya tumbuh 0.50 % (di triwulan I 2024). Pencapian tersebut masih jauh dari benchmark RPJM 2025-2029, yaitu mengamankan konsumsi rumah tangga di rentang 5.4 % - 5.6 %  dan ekspor barang jasa bertumbuh 7.2 % - 8.3 %  ,” ujar Juru Bicara Fraksi NasDem Charles Meikyansyah dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-18 Masa Persidangan V Tahun 2023-2024 di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/5).

Lanjutnya, Pengambil kebijakan harus meletakan fokus utama pada aspek konsumsi masyarakat. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir daya beli masyarakat telah mengalami pelemahan sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi perlahan menyusut.

Kenaikan harga-harga bahan pokok adalah salah satu sebab utama dari pelemahan daya beli masyarakat, Pada awal 2024, misalnya, kelangkaan beras akibat tipisnya pasokan dan terganggunya produksi akibat El Nino menyebabkan harga komoditas tersebut melonjak.

Hal itu secara langsung menggerus pendapatan masyarakat dan menahan pertumbuhan konsumsi masyarakat di triwulan I 2024. Sementara di saat yang sama, pendapatan masyarakat tak mengalami kenaikan yang berarti jika dihadapkan pada kondisi kenaikan harga-harga bahan pokok tersebut.

“NasDem berpandangan pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap lemahnya daya beli, terutama kelas menengah melalui respons kebijakan yang cepat dan tepat, terutama terkait dengan inflasi pangan, pengupahan, dan pajak konsumsi,” kata Charles.

Karenanya, Charles meminta pemerintah dan Bank Indonesia turut dapat menekan tingkat inflasi ke level yang terkendali. Sasaran inflasi yang disusun di rentang 1,5% hingga 3,5% di tahun depan dalam KEM PPKF dinlai beralasan. Hanya, pemerintah dan bank sentral didorong untuk mengoptimalkan upaya pengendalian inflasi maksimal 3%.

“Pemerintah harus bisa menjaga stabilitas harga, akibat kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada kenaikan harga-harga komoditas yang terus menggerus pendapatan dan daya beli masyarakat secara keseluruhan dan signifikan di 2025. Kenaikan harga komoditas bahan pokok itu tidak berbanding lurus dengan kenaikan pendapatan masyarakat jika dikaitkan dengan inflasi,” pungkas Charles. (JHL.192)

Back to Top