Jakarta, (19/6). Anggota Komisi I DPR RI,
Amelia Anggraini, mendorong pemerintah Indonesia melanjutkan dialog dan mencari
solusi jangka panjang yang berkeadilan, menjelang berakhirnya masa jeda tarif
32%, yang dipatok oleh Amerika Serikaat (AS) untuk Indonesia.
"Usulan Indonesia untuk menambah
impor sebesar US$18 miliar, menurunkan syarat kandungan lokal, dan mempermudah
perizinan bagi perusahaan AS, perlu diimbangi dengan keberanian menjaga
kedaulatan ekonomi nasional dan memperkuat hilirisasi industri," kata Amelia dalam keterangannya, Kamis
(19/6/2025).
Masa jeda tarif AS untuk Indonesia akan
berakhir pada 9 Juli 2025. Menurut Amelia, 90 hari masa jeda tersebut adalah
momen penting, yang menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi Indonesia masih
memiliki ruang negosiasi strategis, di tengah ketegangan dagang global.
"Namun, berakhirnya masa jeda ini
menjadi ujian bagi ketahanan dan keberanian diplomasi perdagangan
Indonesia," kata
Amelia.
Amelia juga menyampaikan, Jika tarif
tersebut kembali diberlakukan tanpa tercapainya kesepakatan, maka akan
berdampak langsung pada daya saing eksportir nasional, khususnya sektor-sektor
padat karya yang sangat bergantung pada pasar AS.
Disampaikan oleh Kapoksi NasDem di Badan
Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) itu, di tengah ketidakpastian global yang
juga dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, stabilitas perdagangan
Indonesia tidak bisa dipisahkan dari konteks geopolitik kawasan dan dinamika
keamanan global.
"Ketegangan antara Israel dan
negara-negara regional seperti Iran, serta dampaknya pada jalur pelayaran dan
harga energi, berpotensi memengaruhi biaya logistik dan strategi ekspor
kita," tandasnya.
Dia mengapresiasi alokasi stimulus
Rp24,4 triliun atau setara US%1,5 miliar oleh pemerintah sebagai langkah
antisipatif. Namun seharusnya tidak hanya fokus pada bantuan sosial, tetapi
juga diarahkan pada penguatan industri kecil dan menengah, serta percepatan
transformasi ekonomi domestik.
"Komisi I DPR, melalui peran
strategis BKSAP dan diplomasi antarparlemen, akan terus mendorong penguatan
kerja sama yang setara dan konstruktif dengan Kongres AS dan mitra
internasional lainnya. Indonesia harus tampil sebagai mitra sejajar, bukan hanya
menjadi pasar pasif dalam arsitektur ekonomi global," tukas Amelia. (JHL.611)