Jakarta, (19/6). Dorong peningkatan
peran daerah dalam kolaborasi multi pihak untuk membangun kecakapan literasi
dan pengembangan budaya baca di Tanah Air.
"Program peningkatan literasi
masyarakat tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Upaya pemerintah pusat harus
didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Sinergi antara parapihak
terkait harus diperkuat dengan aksi nyata," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam
keterangan tertulisnya, Jumat (19/6/2026).
Ditegaskan oleh Kepala Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin, dalam acara bedah buku
Literasi di Daerah Realitas dan Strategi Kebijakan Perpustakaan Daerah, Kamis
(18/6), bahwa pemerintah daerah (Pemda) memegang peran strategis sebagai ujung tombak
dalam upaya peningkatan literasi masyarakat.
Menurut Aminudin, pada dasarnya
pembangunan kecakapan literasi dan pengembangan budaya baca berlangsung di
daerah.
Perpusnas mencatat, Indeks Pembangunan
Literasi Masyarakat (IPLM) nasional pada Maret 2026 masih berada pada angka
40,6—masuk dalam kategori rendah (skala 30-49,9). Sementara itu, Tingkat
Kegemaran Membaca (TKM) nasional tercatat di angka 54,80 -- masuk dalam
kategori sedang (40,1-60).
Menurut Lestari, sejumlah catatan tersebut,
harus dijawab dengan penguatan kolaborasi multipihak secara masif dan
berkelanjutan.
Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari,
persoalan utama literasi di Indonesia bukan semata ketiadaan minat baca.
Dukungan masif dalam membangun ekosistem baca yang baik sejak dini sangat
dibutuhkan.
Rendahnya tingkat ketersediaan dan
keterjangkauan akses terhadap bahan bacaan yang bermutu, tegas Rerie yang juga
Anggota Komisi X DPR RI itu, harus segera diatasi dengan langkah nyata.
Rerie mendorong agar layanan
perpustakaan dapat menjangkau hingga ke desa-desa.
Diharapkan oleh Anggota Majelis Tinggi
Partai NasDem itu, perpustakaan dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan
sekadar tempat menyimpan buku.
Selain itu, ditegaskan Rerie, dinas
pendidikan harus mampu mengintegrasikan pengajaran pengembangan literasi dalam
kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler di institusi pendidikan.
"Saat ini, momentum untuk bergerak.
Bangsa ini butuh generasi yang cerdas dan berkarakter, dan itu dimulai dari
kemampuan literasi,"
pungkas Rerie. (JHL.7)