Jakarta, (4/3). Kolaborasi
yang kuat antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan
kecepatan pencegahan dan penanganan kasus demam berdarah dengue (DBD) di
wilayah tersebut, dengan tujuan menekan angka kematian akibat penyakit yang
ditemukan di Indonesia sejak 1968 itu.
"Kecepatan penanganan kasus DBD salah satu
kunci untuk meningkatkan angka kesembuhan dan menekan angka kematian.
Dibutuhkan penanganan yang menyeluruh menghadapi lonjakan kasus DBD di sejumlah
daerah di Tanah Air," kata
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie) dalam keterangan tertulisnya,
Senin (4 Maret).
Menurut catatan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyebab peningkatan kasus DBD adalah vektor
nyamuk DBD yang belum terkendali, masa pancaroba, dan langkah mengubur,
menguras, dan menutup (3M) tempat penampungan air serta barang bekas yang belum
menjadi kebiasaan masyarakat.
Hingga akhir Februari
2024, tercatat oleh Kemenkes terdapat 16.000 kasus DBD di seluruh Indonesia
dengan 124 kasus kematian. Menurut Rerie, kesigapan dengan didukung kebijakan
yang tepat sangat diperlukan dalam menghadapi peningkatan kasus DBD. Rerie
berpendapat siklus peningkatan kasus DBD yang terjadi sejatinya bisa
diantisipasi dengan baik.
dengan konsisten
masyarakat diajak untuk melakukan gerakan 3M dan menjaga kebersihan lingkungan
tempat tinggal. Selain itu, tambah Rerie, sosialisasi terkait gejala dan
langkah antisipasi bila ada keluarga yang diduga terkena DBD juga harus
dilakukan secara massif, sehingga pertolongan pertama dapat segera dilakukan
dengan tepat.
Lebih dari itu, diharapkan
oleh anggota Majelis Tinggi Partai NasDem agar dilakukan kajian yang menyeluruh
oleh pemerintah dalam upaya mengendalikan atau menghentikan penyebaran DBD di
Tanah Air.(JHL.67)