JAKARTA (27 April): Di tengah stigma biaya
politik yang kerap membebani kandidat, Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem,
Fauzan Khalid, justru mengaku menemukan pengalaman berbeda. Ia menegaskan,
keputusannya bergabung dengan Partai NasDem dilandasi implementasi nyata slogan
“politik tanpa mahar” yang ia alami.
“Saya tidak pernah
berpartai. Pada saat saya dicalonkan sebagai Bupati Lombok Barat pada Pilkada
2019 pun saya belum menjadi kader Partai NasDem. Ketika dicalonkan, tidak ada
sepeser pun uang mahar yang diminta dan yang saya serahkan untuk pencalonan,”
kata Fauzan, saat menjadi pembicara dalam Bimbingan Teknis Anggota DPRD Fraksi
Partai NasDem serta Pendidikan Politik Struktur Partai NasDem se-Jawa Tengah
dan Jawa Barat di Jakarta, Jumat (24/04/2026).
Pengalaman itu,
menurut Fauzan, menjadi titik balik. Ia kemudian resmi menjadi kader Partai
NasDem saat maju sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil NTB II Pulau Lombok
pada Pemilu 2024, setelah menuntaskan dua periode jabatannya sebagai Bupati
Lombok Barat (2016–2024).
“Ketika itu, saya
dipanggil ke DPP Partai NasDem, dan langsung diberikan Surat Keputusan (SK)
pencalonan sebagai Bupati Lombok Barat oleh Ketua Umum. Tidak ada mahar. Sejak
saat itu, saya mulai simpati dan memilih menjadi kader Partai NasDem,” ujarnya.
Kini, selain duduk
di Komisi II DPR RI yang membidangi kepemiluan, pemerintahan, dan pertanahan,
Fauzan juga mengemban amanah sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Partai NasDem
Nusa Tenggara Barat.
Di hadapan para
anggota DPRD Fraksi Partai NasDem dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, Fauzan
menekankan pentingnya sinkronisasi kerja politik. Ia meminta anggota dewan
aktif berkomunikasi dengan kepala daerah untuk memahami prioritas pembangunan.
“Jadi, program kerja
Fraksi NasDem selaras dengan prioritas pembangunan daerah. Anggota DPRD juga
harus berkomunikasi dengan Anggota DPR RI Fraksi NasDem, supaya program kerja
bisa diselaraskan untuk kesejahteraan rakyat,” jelasnya.
Ia juga menyinggung
peta pemilih pada Pemilu 2029 yang diproyeksikan didominasi generasi Z.
Menurutnya, pendekatan politik harus mulai disesuaikan sejak sekarang.
“Mereka bisa
dibuatkan wadah atau komunitas tempat berkumpul. Sesuaikan dengan minat dan
hobi mereka. Mulai dari sekarang, perhatikan hal-hal kecil, karena dampaknya
nanti bisa dirasakan pada pemilu 2029 mendatang,” kata Fauzan.
(WH/AS)