Jakarta, (25/4). Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI,
Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan Partai NasDem harus membangun kekuatan
melalui kualitas kader yang unggul dengan menggabungkan elektabilitas,
intelektualitas, dan moral. Hal tersebut, kata Viktor, sebagai syarat menjadi
pemenang pemilu sekaligus mampu memimpin negara secara bertanggung jawab.
“Setiap keterwakilan harus siap dipilih, disukai,
dan juga punya kemampuan intelektual, serta moral,” ujar Viktor dalam Laboratorium Perubahan Partai
NasDem, di Akademi Bela Negara (ABN), Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
Pendidikan politik tersebut diikuti kader Partai
NasDem dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Diingatkan oleh Viktor, bahwa tanpa
kombinasi antara elektabilitas dan kapasitas, partai politik berisiko
melahirkan kepemimpinan yang justru merusak negara. Dalam konteks itu, Viktor
memperkenalkan istilah 'mobokrasi' sebagai peringatan.
“Mobokrasi adalah kejatuhan demokrasi yang dipimpin
oleh kelompok orang bodoh dan rakus,”
ujar Viktor.
Menurutnya, Partai NasDem harus menghindari jebakan
tersebut jika ingin menjadi kekuatan politik yang mampu memimpin bangsa.
“Kita tidak mau, diberikan kesempatan memimpin
bangsa ini, karena kebodohannya membawa negara ini bangkrut,” kata Viktor.
Disoroti juga oleh Viktor, mengenai tantangan besar
ke depan, terutama dengan dominasi pemilih muda. Ia menyebut sekitar 70%
pemilih pada 2029 berasal dari generasi milenial dan Gen Z yang cenderung
berpikir cepat dan praktis. Oleh karena itu, ia mendorong kader partai untuk
memperkuat kapasitas intelektual secara serius, bahkan hingga mempelajari
disiplin ilmu yang tidak lazim bagi politisi.
“Orang politik harus belajar. Kalau mekanisme
kuantum tidak mengerti, filsafat tidak bisa, komputasi tidak bisa, mau lanjut
ke mana?” ujar Viktor.
Ia juga mengkritik rendahnya kedalaman literasi
publik. “98 persen warga hari ini hanya baca judul. Kita tidak boleh seperti
itu, harus paham konteks,” kata politisi Partai NasDem itu.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Viktor
menargetkan lahirnya kader dalam jumlah besar dengan kualitas tinggi. “Kita
tidak cukup satu dua orang hebat. Kita perlu 1.000 orang yang terpilih dan
punya kemampuan,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menyinggung sikap politik NasDem
yang mengedepankan “budaya malu”, termasuk keputusan tidak menempatkan
kader di kabinet meski mendukung pemerintah. “Ini cara berpikir elegan. Itu
DNA NasDem,” ujarnya.
Menutup pidatonya, ditekankan oleh Viktor, bahwa
masa depan partai bergantung pada keseriusan kader dalam membangun kapasitas
diri. “Politisi hebat bukan hanya pandai pidato, tapi punya cara berpikir
yang dalam dan mampu menjawab persoalan bangsa secara konkret,” ungkap
Viktor. (JHL.7)