JAKARTA (2 Desember):
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Subardi, meminta PT Pupuk Indonesia untuk memastikan
ketersediaan pupuk untuk menopang produksi pangan melalui lumbung pangan
nasional atau food estate.
“Kebetulan era pemerintahan sekarang sangat concern
pada ketersediaan pangan. Saya ingin bertanya kepada Direktur Pupuk Indonesia,
sejauh mana kesiapan produksi pupuk dari lima pabrik pupuk Utama? Sejauh mana
kesiapan dan kapasitas yang dimiliki untuk dukung program food estate yang
katanya 3 juta hectare?” ujar
Subardi saat Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR dengan Direktur Utama PT Pupuk
Indonesia, Rachmat Pribadi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin
(2/12/2024).
Legislator Partai NasDem
dari Daerah Pemilihan DI Yogyakarta itu mengungkapkan, pupuk menjadi instrumen
utama dalam menopang produksi pangan. Maka, ketersediaan pupuk menjadi sangat
penting agar produksi pangan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Berawal dari pupuk sebagai pendukung utama
produksi pangan. Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk bisa hidup.
Tentunya produksi pangan tanpa pupuk tidak bisa berjalan dengan baik,” ungkap Subardi.
Ia menambahkan, rencana PT
Pupuk Indonesia untuk melakukan revitalisasi pabrik harus mempertimbangkan
nilai produksi pupuk. Terutama terkait dengan pendanaan yang membiayai rencana
revitalisasi pabrik pupuk.
“Tadi disinggung sama Dirut tentang revitalisasi
pabrik yang sudah lama dan sebagainya. Tapi untuk mendukung produksi ke depan
supaya ketersediaan pupuk terjamin, seperti apa? Detailnya seperti apa?” tanya Subardi.
“Kalau dilakukan revitalisasi, seperti apa?
Biayanya dari mana? Apakah dari kas perusahaan? Apa harus minta penyertaan
modal negara? Apakah pinjam lembaga negara?” imbuhnya.
Selain itu, Subardi juga
meminta Direktur Utama PT Pupuk Indonesia untuk menjaga alur keuangan
perusahaan yang sehat demi memastikan penyediaan dan penyaluran pupuk untuk
menyukseskan produksi pangan nasional.
“Sejauh mana sistem pembayarannya, apakah
pemerintah masih nunggak utang banyak atau lancar atau bagaimana? Karena ini
berkaitan dengan pangan, ini berkaitan dengan nyawa. Kalau utang dalam waku panjang, pabrik, perusahaan
akan mengalami masalah cash flow,”
tandas Subardi. (safa/*)