Data News

Kendaraan bermotor juga sumbang polusi udara di Jakarta

Cilegon, 4 September. Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, telah mengungkapkan bahwa sumber polusi udara di Jakarta tidak hanya berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya, seperti yang mungkin banyak dikhawatirkan. Pada kunjungan kerja ke PLTU Suralaya, Cilegon, Banten, pada Jumat (1/9), Sugeng menyatakan bahwa sebagian besar pencemaran udara di ibu kota Indonesia disebabkan oleh kendaraan bermotor.

Menurut Sugeng, fakta ini telah didukung oleh bukti yang diberikan oleh pihak PLTU Suralaya dan juga mendapat dukungan dari pakar lingkungan hidup. Kendaraan bermotor, termasuk sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum, dan angkutan berat, berkontribusi sekitar 40% atau lebih terhadap polusi udara di Jakarta.

Selain kendaraan bermotor, industri dan rumah tangga juga turut menjadi penyumbang pencemaran udara di ibu kota. Sugeng menjelaskan bahwa faktor arah angin juga memengaruhi dampak polusi PLTU Suralaya terhadap Jakarta, yang pada beberapa bulan tertentu memiliki kontribusi yang rendah.

“PLTU untuk bulan-bulan tertentu, seperti hari ini, justru rendah kategori sumbangan polusinya ke Jakarta, karena secara arah angin juga ternyata justru ke wilayah barat,” ujar Sugeng.

Sugeng menekankan pentingnya pasokan listrik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dia mengungkapkan bahwa tingkat elektrifikasi per keluarga di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Oleh karena itu, perlu terus meningkatkan pemanfaatan listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dia juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki komitmen untuk mencapai target net zero emisi pada tahun 2060.

“Maka terus mau kita tingkatkan pemanfaatan listrik ini. Artinya apa? Ketersediaan listrik harus terus kita tingkatkan. Tetapi ingat, ketersediaan energi, baik listrik maupun apapun itu kita juga tengah menuju net zero emissions di tahun 2060,” tutupnya

Back to Top