Jakarta, (27/3). Eskalasi
konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara
besar terus memberikan tekanan terhadap harga energi global. Dalam beberapa
waktu terakhir, harga minyak mentah dunia menunjukkan tren kenaikan yang
signifikan.
Indonesia perlu segera
memitigasi dampak kenaikan harga minyak dunia, mengingat sejumlah negara telah
lebih dahulu mengambil langkah antisipatif.
Negara-negara Asia
Tenggara seperti Filipina, misalnya, telah menetapkan status darurat energi,
sementara Malaysia meningkatkan subsidi BBM. Di samping itu, Singapura, Tailan,
dan Vietnam juga telah mengalami kenaikan harga BBM.
Kondisi itu menjadi
sinyal bagi Indonesia untuk menyiapkan langkah kebijakan yang cepat, terukur,
dan tepat sasaran.
Disoroti oleh Anggota
DPR RI Komisi XII dari Fraksi Partai NasDem, Irsan Sosiawan, mengenai
pentingnya peningkatan kewaspadaan terhadap kenaikan harga minyak.
“Perkembangan situasi
global saat ini menunjukkan adanya tekanan terhadap harga minyak yang perlu
dicermati secara serius oleh pemerintah,” ujar Irsan dalam
keterangannya, Jumat (27/3/2026).
Dinilai olehnya, bahwa
perbedaan antara asumsi harga minyak dalam APBN dan realisasi harga di pasar
berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal negara, khususnya pada
pos subsidi dan kompensasi energi.
Lebih lanjut,
disampaikan oleh Irsan, bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga
stabilitas melalui langkah-langkah kebijakan yang tepat dan berkelanjutan, baik
dari sisi pengelolaan subsidi, efisiensi anggaran, maupun upaya menjaga
stabilitas harga energi di dalam negeri.
“Upaya penyiapan
langkah yang terukur dan antisipatif diharapkan dapat terus diperkuat agar
stabilitas ekonomi tetap terjaga,” ujarnya.
Ditambahkan olehnya,
bahwa dinamika harga energi turut memberikan dampak langsung terhadap
masyarakat, terutama terkait daya beli serta potensi tekanan inflasi.
Menurutnya,
ketidakpastian global yang masih berlangsung memerlukan respons kebijakan yang
adaptif dan terukur guna menjaga ketahanan ekonomi nasional.
“Berbagai skenario
perlu disiapkan, mengingat dinamika global yang sulit diprediksi dan berpotensi
berdampak berkelanjutan,” pungkasnya.(JHL.7)