Data News

Willy Aditya soroti pejabat publik harus netral pada pilpres 2024

Jakarta, 18 September. Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Willy Aditya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap pernyataan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, yang menyatakan bahwa memilih Amin sebagai pasangan capres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar merupakan perbuatan bid'ah. Willy Aditya menyoroti bahwa sebagai seorang pejabat publik, Yaqut seharusnya menjaga netralitasnya dalam konteks politik.

"Sebagai pejabat publik ia milik semua pihak, milik semua warga negara. Karena milik semua pihak, ya alangkah baiknya beliau tidak menunjukkan preferensi akan pilihan atau kecondongan politiknya di depan publik. Baik itu tersirat atau bercanda, apalagi secara langsung. Biarlah itu menjadi rahasia atau kesunyian diri yang bersangkutan saja," ujar Willy.

Willy Aditya menekankan pentingnya netralitas pejabat publik dalam menjalankan tugas mereka untuk melayani kepentingan seluruh warga negara, terlepas dari preferensi politik pribadi mereka. Ia juga mengingatkan bahwa pejabat publik memiliki tanggung jawab untuk tidak mencampuradukkan preferensi politik mereka dengan tugas-tugas pelayanan masyarakat.

"Pejabat publik bukan milik pendukung partai A atau capres B. Pejabat publik itu milik semua warga negara dan harus melayani semua pihak. Bagi pejabat publik, preferensi politik yang dimilikinya semestinya tidak ditunjukkan di depan publik. Itu etikanya," tambahnya.

Willy Aditya menegaskan bahwa pernyataan politis dari Menteri Agama tidak menjadi masalah bagi Partai NasDem, yang merupakan salah satu partai pendukung pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar sebagai bakal calon presiden dan wakil presiden dalam Pemilihan Umum 2024. Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan bagi pasangan ini akan semakin besar setelah deklarasi mereka sebagai bakal capres dan cawapres, namun partai akan tetap melangkah maju menghadapi cobaan tersebut.

Back to Top