Jakarta, (5/4). Politisi
Partai NasDem Eva Sundari seusai acara Bedah Novel dan Film ‘Gadis Kretek’ di
Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower. Menyampaikan Partai NasDem
berpandangan sudah saatnya industri perfilman menggambarkan perempuan secara
‘adil’. Tak melulu soal parasnya, tetapi juga bagaimana pikiran dan daya
juangnya merespons tantangan hidup.
“Kalau istilah Bung Karno perempuan itu cantik tapi
tolol ya, itu patriakinya di situ. Nah, ini film ndak terjebak di situ, bahwa
perempuan itu berdaya, tidak menggambarkan kecantikannya, kelemahannya, itu
tidak ada gambarannya. Jadi, bagaimana perempuan merespons tantangan hidup itu
dengan cerdas dengan tangguh,”
papar Eva.
Dalam kesempatan itu, juga
hadir Sekretaris Jenderal Partai NasDem Hermawi F Taslim, serta Anggota Komisi
I DPR Muhammad Farhan dan Nafs Urbach sebagai narasumber lainnya. Forum dipimpin
oleh Shanti Ruwyastuti.
Diakui oleh Eva, dirinya
sangat senang dengan genre Gadis Kretek yang keluar dari mainstream perfiliman
Indonesia selama ini yang cenderung merendahkan perempuan.
“Saya melihatnya realitas perempuan yang terakhir
itu bahwa perempuan itu berdaya, ekspektasinya saja lebih panjang dari
laki-laki. Jadi, penggambaran film yang sekarang ini dominan, dulu belum
menggambarkan perempuan apa adanya,”
papar Eva yang juga Direktur Institut Sarinah ini.
Eva menekankan, lebih
lanjut industri perfiliman harus
menampilkan ‘perempuan apa adanya’. Misalnya, bisa mengangkat soal realitas
perempuan dan kontribusinya yang riil di kehidupan sosial masyarakat, itu
menurutnya lebih mendidik.
“Jangan sampai meracuni pemikiran para penonton
bahwa kita ini (perempuan) tidak berdaya, kita ini emosional, karena
realitasnya sebaliknya dari itu. Jadi, film-film berbasis realitas seperti
Gadis Kretek itu yang harus diapresiasi dan para perempuannya harus kritis,” tegas Eva. (JHL.127)