Jakarta, (15/7).
Diungkapkan Willy Aditya, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, dirinya
seperti bertamasya ke masa lalu saat mendapat undangan untuk menjadi pembahas
peluncuran buku puisi Monolog Hujan karya Frans Ekodhanto Purba di Taman Ismail
Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (13/7).
"John F Kennedy Presiden Amerika Serikat
pernah berkata, “jika politik itu
kotor, maka puisilah yang membenahinya! ”
Bung Frans dalam karya-karyanya menghadirkan semangat perlawanan terhadap
relasi kepublikan kota yang sudah tidak manusiawi, serta menghadirkan puisi
dengan pendekatan sosiohistoris tentang Jakarta. Luar biasa Bung.
Selamat!," ungkap Willy yang dituliskan di akun facebooknya.
Ditegaskan Wakil Ketua
Fraksi Partai NasDem DPR RI bidang Politik itu, puisi-puisi memang harus hadir
ketika politik kita hanya diisi oleh intrik dan kekuasaan. Ia mencontohkan
salah satu puisi Frans yang berjudul “Jakarta dalam Nasi Kotak”, yang merepresentasikan
bagaimana demokrasi dimaknai bukan sebagai ekspresi terhadap penindasan.
“Dalam puisi tersebut, Frans berusaha menyampaikan
bahwa demokrasi saat ini dimaknai bukan sebagai ekspresi terhadap penindasan,
melainkan karena faktor siapa yang bayar,” tegas Willy.
Dikemukakan Legislator
NasDem dari Dapil Jawa Timur XI (Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Sampang)
yang akan kembali duduk di kursi Senayan periode 2024-2029 itu, sastra dapat menjadi ruang untuk tetap
merawat akal sehat dan kewarasan masyarakat di tengah demokrasi di Indonesia
yang menuntut keberpihakan.
“Kalau kita mau melawan bungkus (kekuasaan) yang
besar, yang paling penting bagaimana akal budi dan akal sehat kita, menjaga
rasionalitas dan keberpihakan kita. Frans mengajak kita ke dalam ruang yang
sosio-historis, sebagai manusia yang mengalami derita kelas menengah, dan yang
dihadirkan Frans tetap merawat akal budi kita,” ujarnya.
Diungkapkan juga oleh
Anggota Komisi XI DPR itu, menulis dan membaca puisi itu penting. Sangat
penting. Karena puisi merupakan salah satu “alat” untuk menyuling emosi atau
rasa, amarah, kritik, benci, cinta yang hendak meledak. Dengan kata lain, puisi bisa menyuling emosi.
"Ketika emosi bisa disuling, maka akan
mengalir dengan diksi-diksi yang terkendali bahkan diksi yang membakar semangat
berjuang, perlawanan yang lebih membangun. Hal ini juga tercermin dalam buku
Monolog Hujan karya Frans Ekodhanto. Menggalakkan hari membaca itu penting,
tapi tidak hanya dengan membuat aturan dan peraturan perundang-undangan atau
kebijakan semata," pungkas
Willy.(JHL.265)